Lewati ke konten

Sejak Juli 2004

Dari lapak Barito jadi legenda burger Jaksel.

Burger Blenger bukan burger waralaba. Ia lahir dari lapak mungil 2×1 meter di kawasan Barito, Blok M — dan bertahan dua puluh tahun lebih karena satu prinsip: porsi harus bikin blenger.

Suasana lapak kaki lima di malam hariPenjual di lapak makanan malam, hitam putih

Perjalanan

Cerita di balik antrian.

2004

Lapak pertama di Barito

Juli 2004, Erik Kadarman membuka lapak burger 2×1 meter di kawasan Barito, Blok M, dengan modal Rp7 juta. Nama “Blenger” dipilih dari bahasa Jawa: kenyang berlebih sampai puas.

“It's Worth The Wait”

Porsi besar, saus melimpah, harga lapak. Orang rela antri panjang — dan antrian itu sendiri akhirnya jadi ciri khas yang melekat sampai sekarang.

Kini

Jujukan burger jalanan Jaksel

Dua puluh tahun lebih kemudian, Burger Blenger tetap jadi tujuan di Jakarta Selatan dan sekitarnya — dari Blok M sampai Tangerang Selatan — dengan resep dan porsi yang sama.

Prinsip Lapak

Yang nggak pernah berubah.

  • Bun & Patty Homemade

    Roti dan patty sapi dibuat sendiri, bukan beli jadi. Teksturnya beda, rasanya lebih nendang.

  • Saus Luber

    Mayo, BBQ, dan keju disiram nggak pelit sampai netes. Siapkan tisu — memang begitu cara makannya.

  • Harga Lapak

    Kualitas rasa yang serius, harga tetap ramah kantong. Prinsip itu dipegang sejak lapak pertama.

It's Worth The Wait

Ceritanya enak, burgernya lebih enak.

BURGERBLENGER

Lapak burger jalanan legendaris dari Barito–Blok M, Jakarta Selatan. Bun dan patty homemade, saus luber, porsi bikin blenger — sejak 2004.

It's Worth The Wait

Outlet Pusat

Burger Blenger
Jl. Bumi No. 56
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
DKI Jakarta, Indonesia
© 2026 Burger Blenger • Jakarta SelatanBlenger itu tujuan, bukan efek samping.